Cerita Alumni AN Polban Berlebaran di Turki

Kita-Kita

Perayaan Idul Fitri di Indonesia tahun ini masih dalam situasi pandemi dengan banyak pembatasan-pembatasan sosial oleh pemerintah. Bahkan, tradisi mudik pun dilarang dengan melakukan penyekatan jalur mudik secara massif. Lantas bagaimana situasi Idul Fitri di luar negeri? Salah satu alumni Administrasi Niaga Polban Dian Akbas bercerita untuk Bungkusan.

Dian, alumni angkatan 97 ini bersuamikan warga negara Turki dan telah lama menetap di sana. Setiap Idul Fitri, Dian selalu merasa terharu jika melantunkan takbir itu sendirian. Selama 16 tahun tinggal di Turki, tidak pernah mendengar gema takbir dari masjid saat malam lebaran. Menurutnya, di sini, takbir tidak diperdengarkan keluar masjid.

Menurutnya, ada persamaan dan perbedaan tradisi Idul Fitri antara di Turki dan Indonesia. Persamaannya tentunya dilaksanakannya salat Ied.

“Namun, di Turki karena bermazhab Hanafi, jadi yang diperkenankan untuk salat Ied hanyalah kaum lelaki. Dan salat Ied dilakukan di masjid, tidak di lapangan,” tuturnya.

Tahun ini adalah tahun kedua Idul Fitri saat pandemi. Tahun lalu tidak diperkenankan untuk melaksanakan salat Ied. Namun untuk tahun ini, meskipun sedang dalam suasana lockdown, pemerintah memperkenankan untuk melaksanakan salat Ied. Tentunya dengan memperhatikan protokol kesehatan.

Di Turki pun saat Idul Fitri, ada tradisi saling berkunjung pada tetangga dan kerabat. Namun saat ini, karena pandemi, tradisi yang satu ini tidak bisa dilakukan secara nyata. “Kita harus puas dengan saling berkunjung di ranah virtual,” ungkap Dian.

Jika ada yang bertanya, apakah ada tradisi memberi angpau di Turki? Jawabannya ada “YA”. Di sini pun ada tradisi memberi angpau. Angpau diberikan oleh orang tua pada anak dan cucunya. Meskipun si anak sudah berkeluarga dan memiliki anak, orang tua tetap memberinya angpau.

“Saya pun masih suka menerima angpau dari bapak mertua,” akunya.

Ada satu tradisi yang unik dari lebaran di Turki adalah tradisi anak-anak berburu permen. Anak-anak kecil usia TK-SD, mereka pergi sendiri atau bergerombol ke rumah tetangganya. Mereka mengetuk rumah-rumah tetangganya untuk meminta permen (seperti tradisi halloween di barat). Ketika si tetangga membuka pintu, mereka akan mengucapkan Ramazan Bayramımız Mübarek olsun/İyi bayramlar (selamat lebaran), dan tetangga pun akan memberinya sebuah permen atau coklat. Mereka akan merasa bahagia walaupun hanya diberi 1 permen.

“Jadi salah satu yang harus disediakan di rumah-rumah di Turki menjelang lebaran adalah permen atau coklat. Selain itu, yang biasa disediakan menjelang lebaran adalah lokum (Turkish delight) dan kue-kue basah yang manis (bahasa Turki: tatlı) seperti baklava. Di keluarga suami, ibu mertua selalu membuat “kadayif tatlısı”,” Dian bercerita.

Apakah ada tradisi baju lebaran di Turki? Tentu saja ada. Menjelang lebaran, pusat-pusat perbelanjaan di Turki selalu dipenuhi oleh orang-orang yang akan membeli baju lebaran. Bahkan jika bukan pandemi, toko-toko di pusat kota selalu buka hingga menjelang subuh.

“Sebagai pedagang di Kota Alanya, saat malam lebaran, saya selalu menyaksikan keramaian di pusat kota hingga menjelang subuh. Namun di masa pandemi ini, aktivitas seperti itu harus dihentikan dulu,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *