*Meneropong Kompetensi Lulusan AN di Era 4.0*

DINAMIKA

Bicara tentang politeknik, banyak keunggulan yang akan diperoleh lulusannya.   Politeknik sudah teruji karena telah dikembangkan sejak 1980an.  Tidak hanya jenjang diploma, politeknik juga terus mengembangkan jenjang pendidikannya menjadi lebih tinggi.  Politeknik juga dikenal menghasilkan lulusan siap kerja dimana lebih fokus pada praktek dibandingkan teori.  Bahkan, sejak dulu lulusannya banyak diburu oleh perusahaan, apalagi sekarang kesempatan belajar ilmu terapan populer di luar negeri sangat terbuka.

Politeknik Negeri Bandung atau yang biasa dikenal dengan nama Polban, saat ini membuka 10 jurusan ditambah program magister.  Salah satu jurusan bidang sosial yang diminati di politeknik yang dahulunya bernama Poltek ITB ini adalah Jurusan Administrasi Niaga.

Jurusan Administrasi Niaga membuka enam program studi dalam dua jenjang.  Jenjang Diploma III terdiri dari Program Studi Administrasi Bisnis, Manajemen Pemasaran dan Usaha Perjalanan Wisata.  Sementara jenjang Diploma IV meliputi Program Studi Administrasi Bisnis, Manajemen Aset, dan Manajemen Pemasaran.

  • Prodi Administrasi Bisnis D III – Akreditasi A BAN PT
  • Prodi Administrasi Bisnis D IV – Akrediatsi A dengan gelar Sarjana Science Terapan (SST)
  • Prodi Manajemen Pemasaran D III – Akreditasi A
  • Prodi Manajemen Pemasaran D IV – Akreditasi B dengan gelar Sarjana Science Terapan (SST)
  • Prodi Usaha Perjalanan Wisata D III – Akreditasi A
  • Prodi Manajemen Aset – Akreditasi A dengan gelar Sarjana Science Terapan (SST)

Seiring perkembangan zaman, tantangan lulusan Administrasi Niaga pun mengalami perubahan.  Perkembangan teknologi yang pesat membuat jurusan ini harus cepat beradaptasi.  Hal ini diakui oleh Ketua Jurusan Administrasi Niaga Sri Raharso.  Menurutnya, perguruan tinggi lainnya saat ini mulai mengerjakan apa yang dikerjakan oleh politeknik.

“Jadi perguruan tinggi yang notabene umum, saat ini mulai masuk pola politeknik dengan memperbanyak prakteknya,” ungkap Sri Raharso.

Ia pun mencontohkan salah satu universitas bisnis swasta di Jakarta yang telah menerapkan praktek bisnis pada perkuliahannya.

“Jadi perkuliahan tidak hanya sebatas business plan, tapi sudah real praktek menjalankan usahanya.  Kita harus jaga, jangan sampai politeknik kebalikannya, prakteknya semakin sedikit teori bertambah banyak,” ungkapnya dengan nada serius seraya mengingatkan kembali tentang hakekat politeknik yang harus kuat dipraktek.

Setali tiga uang, Sekretaris Jurusan Administrasi Niaga Politeknik Negeri Bandung Nono Wibisono juga mengungkap tantangan yang dihadapi jurusannya kala berbincang virtual dengan BUNGKUSAN.  Menurutnya, saat ini tantangannya semua sudah harus memiliki aroma 4.0.

“Tantangan terbesar saat ini, sebagai pendidikan vokasi tentunya setiap kampus memerlukan sarana dan prasarana mutakhir.  Sayangnya, sampai saat ini kita masih kurang terpenuhi seperti untuk laboratorium berbasis teknologi 4.0,” ungkap Nono Wibisono.

Selain itu, tantangan juga ada pada ketersediaan dosen yang berpengalamam industri yang masih kurang di Jurusan Administrasi Niaga.

“Tentunya dosen berbasis industri ini masih kurang khususnya untuk di Jurusan Administrasi Niaga,” tuturnya.

Ketika ditanya program unggulan saat ini, Nono menjawab diplomatis.  Menurutnya, setiap Prodi mempunyai program unggulannya masing-masing.

“Yang pasti mereka setelah lulus siap bekerja dengan dibekali sertifikat keahlian industri yang dikeluarkan oleh BNSP maupun asosiasi industri sesuai dengan prodinya,” lanjut Nono Wibisono.

Selain itu, setiap prodi mempunyai kerjasama dengan pemerintah daerah (Prodi Manajemen Aset) dan industri.  Mahasiswa juga diberi kesempatan magang di industri selama dua bulan.

“Selain itu, setiap mahasiswa dibekali computer literacy dan English literacy certificate.  Kabar baiknya lagi, serapan lulusan sampai saat ini sangat baik dengan waktu tunggu 2-3 bulan, dan banyak juga yang menjadi wirausaha,” ungkap Nono lagi.

 

*Kompetensi Lulusan Saat Ini*

Kompetensi yang dimiliki setiap program studi baik Diploma III maupun Diploma IV satu sama lain tidak sama.   Lalu bagaimana kompetensi lulusan Administrasi Niaga saat ini dalam kacamata alumni.  Redaksi BUNGKUSAN menghimpun beberapa pendapat dari responden terkait hal ini.

Wahyu Ardi Negara, salah seorang alumni Administrasi Niaga Angkatan 1999 berpendapat, lulusan Administrasi Niaga saat ini harus kental rasa milenialnya.

“Harus lebih milenial pemikirannya karena sekarang eranya berbeda dengan zaman kami,” cetusnya.

Namun, menurut alumni yang saat ini bekerja di Bank Indonesia Kanwil Maluku Utara ini, rasa milenial itu sudah nampak dari lulusan-lulusan terbaru.

“Alhamdulillah kualitasnya sama karena didikannya ketat dengan banyaknya tugas.  Jangan lupa kuasai IT dan memiliki keluwesan dalam bergaul dan membangun jejaring,” ujarnya lagi.

Sementara itu, Yogi Permana Ibrahim atau biasa disapa Igoi punya pendapat lain.  Menurutnya, lulusan Administrasi Niaga juga harus memiliki kemampuan untuk berbisnis.

“Lulusan juga harus dibekali dan dilatih untuk memiliki kemampuan untuk berbisnis sendiri,” ungkap alumni AN Angkatan 94 yang saat ini menggeluti bidang wiraswasta.

Hal senada diungkapkan oleh Boy Setiawan, Alumni AN Angkatan 2001 yang saat ini menggeluti berbagai usaha ini.

“Waduh, makin kesini dunia makin gonjang ganjing dalam pemetaan dunia kerja.  Dunia usaha semakin berkabut dan tantangan semakin bergelombang.  Jangan merasa cukup dengan ilmu dan ijasah Polban saja.  Buruan update dan upgrade skill diri, banyak bergaul, ikuti kajian dan pelatihan-pelatihan yang relevan,” tutur Boy.

Selain itu, Boy juga menekankan pentingnya menguasi skill berbasis teknologi.

“Skill yang berbasis teknologi informasi itu penting. Harus bisa komputer jangan gaptek kayak saya dulu.  Dan, siapkan juga mental kreatif berbasis jiwa inovatif dengan aktif di organisasi karena bagus untuk mengasah leadership dan mental entrepenership,” terang Boy lagi.

Sementara itu, Siti Nurlaila alumni AN Angkatan 94 yang biasa dipanggil Noeng juga memberikan pendapatnya.  Menurutnya, lulusan harus lebih memiliki spesialisasi.

“Kompetensi yang harus dimiliki saat ini, harus lebih menspesialisasikan diri.  Misalnya lebih menguasai bidang pelatihan, jadilah coach yang memiliki sertifikasi (certified),” ungkap Noeng yang saat ini menggeluti dunia fashion di Kota Kembang Bandung.

Tantangan untuk berwiraswasta ini diakui oleh salah satu mahasiswi Administrasi Niaga, Eka Farhati.  Menurut mahasisiwa yang sedang mengambil Program Diploma IV ini, mental berwirausaha itu penting.

“Saya percaya ilmu berwirausaha sudah dimiliki oleh akang dan teteh lulusan AN, bahkan sudah lebih dari cukup.   Tapi, selain itu, butuh keberanian yang besar untuk memulai wirausaha itu sendiri.  Menurut saya ini harus dibangun dan dikuatkan mental berwirausahanya,” ungkap Eka Farhati. (j)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *