Noeng, Lulusan AN Polban yang Berkibar di Industri Fashion

Teropong Bisnis

Sukses, satu kata pencapaian yang sangat ingin dimiliki oleh semua orang. Sukses, menurut sebagian orang merupakan suatu keberhasilan dengan segala usaha yang mereka lakukan. Sukses juga dapat diartikan suatu keberhasilan untuk mencapai segala yang diinginkannya. Dalam cakupan pengetahuan yang sederhana dapat kita contohkan bahwa seseorang dapat dikatakan sukses apabila sudah mampu mencapai apa yang dicita-citakannya.

Bagi Siti Nurlaila, menggeluti bidang usaha fashion awalnya bukanlah cita-citanya. Alumni Jurusan Administrasi Niaga Politeknik Negeri Bandung Angkatan 95 ini mulai terjun ke dunia usaha fashion sejak 2008. Semuanya berawal dari ketidaksengajaan dari banyaknya orang yang menyukai pakaian yang biasa ia kenakan.

Wanita kelahiran Bandung, 9 September 1975 ini mengaku mulai terjun ke usaha bisnis dimulai dengan motivasi “Bakat Ku Butuh” setelah ia memutuskan untuk keluar sebagai pekerja kantoran.

“Kaget ya, biasa kesana-kesini mengurus ini dan itu. Bertemu banyak orang, tiba-tiba harus stay di rumah ngurus anak,” ujar Siti Nurlaila.

Dengan modal awal 1-2 juta, Noeng begitu ia akrab disapa memulai usahanya dengan membawa barang dagangannya ke arisan RT di lingkungan rumahnya.

“Awalnya iseng saja bawa baju barang dagangan ke arisan RT ibu-ibu di rumah, ternyata responnya cukup bagus. Dari sana saya mulai fokus untuk mengembangkan usaha ini,” lanjutnya.

Dengan menggunakan jurus ATM (Amati, Tiru, Modifikasi) Noeng memulai usahanya dengan meniru desain-desain yang saat itu sedang trend di masyarakat.

Dalam menjalankan usahanya, Noeng membagi barang dagangannya ke dalam beberapa segmen pasar. Ada dua segmen yang dipilih Noeng yaitu segmen “middle up” dan segmen “middle” low. Alasan pembagian segmen tersebut, menurut Noeng, dilihat dari harga barang dagangannya itu sendiri.

“Misalkan baju lukis, itu masuknya kedalam segmen pasar middle up, sedangkan baju blouse, kaftan, dan souvenir itu masuknya ke segmen middle low,” ungkapnya lagi.

Untuk pemasaran produknya, Noeng memilih melakukannya secara online. Alasannya karena sekarang UKM harus mulai go online agar dapat bersaing dengan merek luar. Ketika ditanya omset, Noeng tersenyum seraya menyebut angka.

“Sebelum pandemi, omset penjualan perbulan antara Rp 200 – Rp 400 juta,” jawabnya

Noeng yang saat ini mengelola “Athira Designed At You” mengatakan, minat pasar terhadap produk handmade yang unik menunjukkan adanya peningkatan.

“Indikatornya terlihat dari banyaknya pesanan produk craft untuk souvenir dan homedecor,” imbuhnya.

Untuk produk jahitan, lanjut Noeng, saat ini dipusatkan di Jalan Patrakomala Dalam 17 Bandung, sedangkan untuk produk kain lukis di Jatihandap Cicaheum. Kemampuan produksi produk lukis dibuat berdasar orderan karena proses pengerjaannya cukup memakan waktu. Bahan baku yang digunakan adalah kain sutera dari Garut, Sengkang Polyester dan kain perca yang dikerjakan dua orang.

Tetap Survive di Tengah Badai Corona

Pandemi covid-19 atau virus corona membuat industri terpukul. Banyak pengusaha yang tiarap, bahkan tidak sedikit yang gulung tikar. Noeng mengaku, usahanya juga cukup terdampak oleh wabah corona ini.

“Pandemi ini sangat berpengaruh, menyebabkan turunnya penjualan dan terhambatnya produksi,” ujar Noeng.

Lalu bagaimana usaha Noeng supaya bisnisnya tetap survive? Ada beberapa Langkah yang dia lakukan.

“Tentunya kita harus tetap maintenance loyal customer, itu penting. Kemudian harus pandai membaca situasi dengan memproduksi barang-barang yang dibutuhkan pada masa pandemi ini seperti masker,” terangnya.

Selain itu, Noeng juga kembali menjalankan produksi makanan yang memang sudah ada sebelumnya.

“Saya memproduksi makanan atau snack ala home made dengan brand Lekkernaken,” tambahnya.

Resep ala Noeng

Noeng menyebut, usaha yang digelutinya saat ini mungkin ada kaitan dengan latar belakang keluarga. Walau dirinya berasal dari keluarga tentara, ibunya merupakan wanita tangguh yang menyokong penghasilan untuk membiayai 8 orang anak dengan berdagang makanan rumahan. Sementara bapaknya sebagai tentara sering melaksanakan tugas, seperti di antaranya tugas di Timtim, dan lainnya.

“Tiap pagi saya bertugas untuk mengirimkan kue atau gorengan warung-warung sekitar rumah yang menjualnya. Itu dilakukan sebelum berangkat sekolah. Mungkin hal ini menjadi salah satu faktor yang mendorong saya mengeluti bidang usaha sendiri,” cerita Noeng.

Ibu dari Rafeifa Rifnafayza Chalila (14 tahun) ini mengaku usaha fashion yang ditekuni sejak tahun 2008 ini sempat vakum dan baru kemudian pada tahun 2016 ditekuni kembali.

Noeng menganut falsafah hidup “Learning By Doing”. Menurutnya, agar produknyan tetap berdaya saing, dia menyiapkan 3 resep.

“3 resepnya tetap dipakai sampai sekarang , yakni “Never Ending Learning” artinya jangan pernah berhenti belajar, “Be Creative” artinya harus kreatif, dan resep ketiga adalah “Stay Positive” yang berarti jangan baperan,” ungkap Noeng.

(Dari berbagai sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *